
AQMS (Air Quality Monitoring System) bekerja dengan mengukur beberapa parameter udara secara terus menerus, lalu mengubah hasil pengukuran itu menjadi data yang dapat dibaca, disimpan, dan dilaporkan. Memahami cara kerjanya membantu Anda menilai keandalan sebuah alat bukan sekadar melihat daftar parameternya.
1. Sensor pengukur
Inti dari AQMS adalah sensornya, dan metodenya berbeda menurut jenis parameter. Partikulat (PM1, PM2.5, PM10) umumnya diukur dengan teknologi OPC (Optical Particle Counter), yang menghitung partikel berdasarkan hamburan cahaya. Gas (CO, NO₂, SO₂, O₃, HC) umumnya diukur dengan sensor elektrokimia, yang menghasilkan sinyal listrik sebanding dengan konsentrasi gas. Tiap metode punya rentang ukur dan batas deteksi tertentu yang perlu diperhatikan saat memilih alat.
2. Stasiun meteorologi
Banyak AQMS dilengkapi sensor cuaca, suhu, kelembapan, arah dan kecepatan angin, tekanan, curah hujan untuk membantu menganalisis sebaran pencemar.
3. Datalogger dan penyimpanan
Hasil pengukuran dikumpulkan oleh datalogger, yang menyimpan data secara lokal dan biasanya menampilkannya di lokasi. Penyimpanan lokal penting agar data tidak hilang saat koneksi terganggu.
4. Transmisi dan ekspor data
Data lalu dikirim secara otomatis ke server atau dashboard misalnya melalui TCP/IP sehingga dapat dipantau dari jarak jauh. Format ekspor seperti CSV/Excel memudahkan integrasi ke sistem pelaporan instansi.
5. Kalibrasi dan akurasi
Tanpa kalibrasi rutin, sensor akan menyimpang seiring waktu dan datanya menjadi tidak dapat dipercaya. Karena itu, sertifikat kalibrasi yang tertelusur (traceable) dan jadwal kalibrasi berkala merupakan bagian penting dari sebuah AQMS yang andal bukan sekadar pelengkap.
Memilih AQMS yang tepat

Instalasi AQMS portable untuk Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi di bawah Badan Pengendalian Lingkungan Hidup/Kementerian Lingkungan Hidup.
Memahami cara kerja ini membantu Anda menyusun persyaratan yang tepat: metode sensor, rentang ukur, konektivitas, hingga ketentuan kalibrasi.
satu Respon